Ironi di Tempat Suci: Kala Kekudusan Tercoreng Pencurian
Tempat ibadah seharusnya menjadi oase ketenangan, kedamaian, dan kekhusyukan, tempat di mana hati dan jiwa menemukan perlindungan. Namun, ironisnya, ruang-ruang sakral ini tak luput dari incaran tangan-tangan jahil pencuri. Fenomena pencurian di rumah ibadah adalah realitas pahit yang merusak kepercayaan dan mencoreng kekudusan.
Pencurian di tempat ibadah seringkali bukan didorong motif kebencian agama, melainkan murni oportunisme. Pelaku memanfaatkan kelengahan jemaah atau minimnya pengawasan. Targetnya beragam, mulai dari kotak infak, sumbangan, hingga barang pribadi jemaah seperti tas, dompet, atau alas kaki yang diletakkan sembarangan. Kepercayaan bahwa tempat ibadah adalah area yang aman justru dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab.
Dampak pencurian ini melampaui kerugian materi. Ia merusak rasa aman dan kepercayaan yang seharusnya bersemi di lingkungan ibadah. Jemaah bisa merasa was-was, kenyamanan beribadah terganggu, dan bahkan citra tempat ibadah itu sendiri bisa tercoreng. Kejadian ini mengingatkan kita bahwa kejahatan bisa terjadi di mana saja, bahkan di tempat yang paling tidak terduga.
Maka, penting bagi pengelola dan jemaah untuk meningkatkan kewaspadaan tanpa mengurangi kekhusyukan. Pemasangan CCTV, pengawasan sukarela, dan saling mengingatkan adalah langkah konkret. Dengan begitu, tempat ibadah dapat kembali menjadi benteng kekudusan yang sejati, bebas dari bayang-bayang kejahatan, dan tetap menjadi ruang aman bagi setiap jiwa yang mencari ketenangan.
