Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) tengah menatap gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 dengan arah yang lebih strategis dan berorientasi pada prestasi internasional. Setelah suksesnya PON 2024 di Aceh-Sumatera Utara, KONI kini berfokus untuk menjadikan ajang empat tahunan tersebut sebagai panggung pembibitan atlet menuju Olimpiade. Langkah ini merupakan bagian dari visi besar untuk memperkuat ekosistem olahraga Indonesia agar lebih kompetitif di tingkat dunia.
Fokus pada Cabang Olimpiade
Dalam rencana strategisnya, KONI akan memprioritaskan cabang-cabang olahraga yang termasuk dalam daftar resmi Olimpiade. Tujuannya jelas: mengalihkan energi dan sumber daya pada olahraga yang memiliki peluang besar mengharumkan nama Indonesia di kancah global. Beberapa cabang seperti atletik, renang, bulu tangkis, angkat besi, panahan, dan senam menjadi fokus utama.
Ketua Umum KONI menegaskan bahwa pembinaan cabang Olimpiade bukan berarti mengesampingkan cabang non-Olimpiade, melainkan menyesuaikan proporsi agar investasi prestasi lebih efisien dan terukur. “Kami ingin PON tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga laboratorium prestasi untuk atlet masa depan,” ujarnya dalam sebuah pertemuan nasional.
Pembinaan Berjenjang dan Desentralisasi Pelatihan
KONI juga menyiapkan pola pembinaan baru yang menekankan kolaborasi antara pusat dan daerah. Setiap provinsi diharapkan menjadi pusat unggulan untuk cabang tertentu, sesuai dengan potensi lokal dan fasilitas yang tersedia. Misalnya, Jawa Barat fokus pada cabang dayung dan senam, Jawa Timur unggul di angkat besi, sementara Bali dan DKI Jakarta diperkuat untuk olahraga air dan bela diri.
Langkah ini sekaligus mendukung efisiensi anggaran pelatihan, karena setiap daerah dapat memusatkan perhatian pada bidang keunggulannya. KONI juga berencana menambah pelatihan sport science dan sport medicine untuk memperkuat data serta manajemen performa atlet.
Digitalisasi dan Teknologi dalam Persiapan PON 2028
Salah satu inovasi yang akan diterapkan adalah pemanfaatan teknologi digital dalam sistem pelatihan dan seleksi atlet. KONI tengah mengembangkan platform terintegrasi untuk memantau perkembangan atlet dari tingkat daerah hingga nasional. Data performa, hasil latihan, hingga rekam medis akan tersimpan secara digital, memungkinkan pelatih dan tim ahli melakukan evaluasi lebih akurat.
Selain itu, penggunaan video analisis dan wearable device akan menjadi bagian penting dari pelatihan atlet menuju PON 2028. Teknologi ini membantu pelatih memahami detail teknik dan strategi setiap atlet, sehingga pembinaan bisa dilakukan lebih presisi dan berbasis data.
PON 2028 sebagai Ajang Evaluasi Menuju Olimpiade
PON 2028 diharapkan menjadi ajang penting untuk mengukur kesiapan Indonesia menghadapi Olimpiade berikutnya. Atlet-atlet muda berprestasi yang muncul dari PON akan diseleksi dan dibina lebih lanjut oleh Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Dengan sinergi lintas lembaga, Indonesia berharap dapat menambah jumlah medali pada Olimpiade 2032 atau 2036 mendatang.
Lebih jauh, KONI juga menargetkan agar PON ke depan tidak hanya memunculkan atlet berprestasi, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gaya hidup sehat dan budaya sportivitas. Melalui penyelenggaraan yang profesional dan kompetitif, PON diharapkan menjadi simbol kemajuan olahraga nasional.
Menuju Ekosistem Olahraga yang Berkelanjutan
Persiapan PON 2028 tidak hanya soal event, tetapi juga tentang membangun fondasi olahraga yang berkelanjutan. KONI mendorong peningkatan kualitas pelatih, wasit, serta infrastruktur olahraga di seluruh Indonesia. Dengan pendekatan ini, PON diharapkan dapat melahirkan sistem pembinaan yang kuat, berjenjang, dan berorientasi jangka panjang.
Dengan fokus pada cabang-cabang Olimpiade, pemanfaatan teknologi, serta pembinaan terarah, KONI menunjukkan komitmennya membawa olahraga Indonesia ke level yang lebih tinggi. PON 2028 bukan sekadar kompetisi nasional, melainkan langkah strategis menuju kejayaan Indonesia di panggung dunia.
