Framing media

Membingkai Pikiran: Rahasia Framing Media

Ketika kita membaca atau menonton berita, seringkali kita merasa telah mendapatkan gambaran utuh. Namun, di balik setiap narasi yang disajikan, ada sebuah proses kuat yang dikenal sebagai "framing media". Ini bukan sekadar melaporkan fakta, melainkan seni membentuk persepsi.

Apa Itu Framing Media?
Secara sederhana, framing media adalah cara media memilih, menyusun, dan menonjolkan aspek-aspek tertentu dari suatu isu atau peristiwa, sekaligus mengabaikan atau meredupkan aspek lainnya. Ini dilakukan melalui pemilihan kata, frasa, citra visual, hingga sudut pandang yang diambil dalam laporan.

Bagaimana Ia Bekerja?
Bayangkan sebuah peristiwa bisa dibingkai sebagai "krisis keamanan" atau "isu kemanusiaan"—dua bingkai yang akan memicu respons dan persepsi publik yang sangat berbeda, meskipun merujuk pada kejadian yang sama. Media bisa menekankan statistik kejahatan untuk menciptakan bingkai "kota tidak aman", atau menyoroti kisah individu untuk membangun bingkai "solidaritas masyarakat". Pilihan kata seperti "migran" versus "pengungsi", atau "pajak rakyat" versus "pungutan negara", semuanya adalah bagian dari teknik framing yang membentuk cara kita menafsirkan realitas.

Mengapa Ini Penting?
Dampak framing sangat besar. Ia memiliki kekuatan untuk:

  1. Membentuk Opini Publik: Memengaruhi bagaimana masyarakat memandang suatu isu, tokoh, atau kebijakan.
  2. Memengaruhi Kebijakan: Bingkai tertentu bisa mendorong dukungan atau penolakan terhadap suatu kebijakan pemerintah.
  3. Mengatur Agenda: Apa yang dianggap penting dan layak dibicarakan oleh publik seringkali dibentuk oleh bingkai yang disajikan media.

Kesadaran adalah Kunci
Bagi kita sebagai konsumen informasi, memahami framing media adalah kunci. Ini berarti tidak hanya menerima berita begitu saja, tetapi juga bertanya: "Bagaimana cerita ini dibingkai? Aspek apa yang ditonjolkan atau diabaikan? Apa tujuan di balik pilihan penyajian ini?"

Singkatnya, framing media adalah alat editorial yang kuat yang secara halus namun signifikan membentuk cara kita memahami dunia. Dengan kesadaran akan proses ini, kita dapat menjadi pembaca dan pemirsa yang lebih kritis dan mandiri, tidak sekadar menerima, melainkan secara aktif menafsirkan informasi.

Exit mobile version