Berita  

Dampak perubahan iklim terhadap pertanian dan ketahanan pangan

Panasnya Bumi, Kosongnya Isi Piring: Ancaman Iklim bagi Pertanian dan Ketahanan Pangan

Perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan realitas yang kini menghantam sendi-sendi kehidupan, terutama sektor pertanian dan ketahanan pangan global. Ketika suhu bumi terus meningkat dan pola cuaca menjadi semakin ekstrem, piring makan kita berada di ambang krisis.

Dampak Langsung pada Pertanian:

Sektor pertanian, yang menjadi tulang punggung penyedia pangan, adalah salah satu yang paling rentan. Peningkatan suhu rata-rata mengganggu siklus pertumbuhan tanaman dan ternak. Kekeringan berkepanjangan merusak lahan subur dan mengurangi ketersediaan air untuk irigasi, sementara banjir bandang meluluhlantakkan hasil panen dalam sekejap. Perubahan iklim juga memicu penyebaran hama dan penyakit baru yang resisten, mengancam produktivitas pertanian secara masif. Akibatnya, volume dan kualitas hasil panen menurun drastis, mengancam mata pencarian jutaan petani di seluruh dunia.

Konsekuensi pada Ketahanan Pangan:

Penurunan produksi pertanian secara langsung berdampak pada ketersediaan pangan. Pasokan yang tidak stabil memicu lonjakan harga komoditas pangan, membuat jutaan orang, terutama masyarakat miskin dan rentan, kesulitan mengakses makanan yang cukup dan bergizi. Kondisi ini memperparah masalah kelaparan dan malnutrisi, menciptakan lingkaran setan kemiskinan dan kerawanan pangan. Ketahanan pangan nasional dan global menjadi goyah, berpotensi memicu instabilitas sosial dan bahkan konflik.

Mendesak untuk Bertindak:

Menghadapi ancaman ganda ini, tindakan cepat dan terkoordinasi sangat dibutuhkan. Adaptasi pertanian yang cerdas iklim, seperti pengembangan varietas tanaman yang tahan kekeringan atau banjir, sistem irigasi yang efisien, dan praktik pertanian berkelanjutan, harus menjadi prioritas. Diperlukan pula kebijakan pangan yang inklusif dan sistem peringatan dini untuk mitigasi risiko. Masa depan pangan kita, dan kesejahteraan umat manusia, sangat bergantung pada bagaimana kita merespons tantangan perubahan iklim hari ini. Jika tidak, "isi piring" kita terancam kosong.

Exit mobile version