Dampak Kebijakan Impor terhadap Ketahanan Pangan Nasional

Jerat Impor: Dilema Ketahanan Pangan Nasional

Kebijakan impor pangan seringkali dipandang sebagai solusi cepat untuk menstabilkan harga dan memenuhi pasokan di pasar domestik. Namun, di balik janji ketersediaan, tersimpan dilema besar yang mengancam fondasi ketahanan pangan nasional.

Dalam jangka pendek, impor memang dapat meredam lonjakan harga, mengisi kekosongan pasokan akibat gagal panen, atau diversifikasi sumber pangan. Ini bisa menjadi alat stabilisasi ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat.

Namun, ketergantungan berlebihan pada impor menciptakan kerapuhan. Pertama, harga produk petani lokal tertekan, mengurangi insentif untuk berproduksi dan melemahkan sektor pertanian domestik. Kedua, negara menjadi rentan terhadap gejolak harga global, kebijakan proteksionisme negara pengekspor, hingga krisis geopolitik atau bencana alam di luar negeri yang dapat memutus rantai pasok.

Jangka panjang, kemandirian pangan terkikis, beralih dari produsen menjadi konsumen semata. Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga kedaulatan. Bangsa yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan selalu berada di posisi tawar yang lemah.

Oleh karena itu, kebijakan impor pangan harus dirancang secara strategis, bukan hanya reaktif. Prioritaskan penguatan produksi domestik, peningkatan produktivitas petani, diversifikasi pangan lokal, serta pengembangan sistem logistik yang efisien. Impor harus menjadi instrumen penyeimbang jangka pendek yang terkontrol, bukan pilar utama penyangga ketahanan pangan.

Membangun ketahanan pangan sejati berarti memastikan ketersediaan pangan yang mandiri, berkelanjutan, dan berdaulat, bukan sekadar mengisi perut dengan pangan dari luar.

Exit mobile version