Full Day School: Lebih Lama, Lebih Baik? Menjelajah Dampak pada Kualitas Pendidikan
Kebijakan Full Day School (FDS) atau sekolah sehari penuh telah menjadi wacana dan implementasi di banyak tempat, bertujuan utama untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui penambahan jam belajar dan kegiatan. Namun, apakah durasi yang lebih panjang otomatis berarti kualitas yang lebih baik?
Secara teoretis, FDS memberikan kesempatan lebih luas bagi siswa untuk mendalami materi pelajaran, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang beragam, dan mengembangkan minat serta bakat mereka. Durasi yang lebih panjang juga diharapkan mampu menguatkan pendidikan karakter, disiplin, dan interaksi sosial antar siswa dan guru. Bagi orang tua yang bekerja, FDS juga bisa menjadi solusi pengawasan anak selama jam kerja.
Namun, implementasi FDS tidak lepas dari berbagai tantangan yang berpotensi memengaruhi kualitas pendidikan itu sendiri. Kelelahan fisik dan mental pada siswa, terutama anak usia dini, menjadi perhatian utama. Waktu istirahat dan bermain yang berkurang, serta minimnya interaksi dengan keluarga, dapat berdampak negatif pada perkembangan psikologis dan sosial anak. Bagi guru, beban kerja yang meningkat juga berisiko menurunkan efektivitas pengajaran. Kualitas pembelajaran juga bukan hanya soal durasi, melainkan juga metode yang inovatif, relevansi materi, dan lingkungan belajar yang kondusif. Tanpa perencanaan kurikulum yang adaptif dan fasilitas memadai, penambahan jam belajar bisa menjadi sekadar rutinitas tanpa makna.
Dengan demikian, dampak FDS terhadap kualitas pendidikan bersifat dua sisi. Potensinya besar untuk peningkatan, namun keberhasilannya sangat bergantung pada perencanaan yang matang, dukungan fasilitas memadai, kurikulum yang adaptif dan tidak membosankan, serta keseimbangan antara waktu belajar formal dan kesempatan untuk eksplorasi diri di luar pelajaran. Tanpa pendekatan holistik, FDS berisiko menjadi sekadar penambahan jam tanpa peningkatan esensi kualitas pendidikan yang sesungguhnya.
